DIKIRA PENGEMIS BIASA, TERNYATA?
Dalam agama sudah diajarkan bahwa berprasangka buruk adalah sesuatu yang tidak baik. Seperti kejadian dalam artikel berkikut ini.
Awalnya banyak orang mengira Bapak ini adalah pengemis biasa pada umumnya, yang melakukan pekerjaan tersebut hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Nama beliau Pak Ton. Usianya sudah setengah abad lebih. Dulu ketika masih bugar, Pak Ton bekerja di Puskesmas Kota Kecamatan Bojonegoro. Siap grak! Suaranya lantang ketika memimpin apel pagi. Selepas kerja, beliau masih menyempatkan diri untuk berjualan keliling. Dengan menggunakan gerobak, beliau biasa menjajakan tahu godril keliling kampung. Dulu ketika masih kecil, saya sering membeli tahu godril buatan beliau. Yah walau sudah lupa bagaimana rasanya, tapi saya tak akan pernah lupa bagaimana senyum dan keramahan beliau saat melayani konsumen, apalagi anak-anak.
Selama bekerja, Pak Ton selalu menyisihkan penghasilannya untuk anak yatim. Hingga masa tua dan sudah tidak bekerja lagi, hal itu tidak menghilangkan semangat sosialnya untuk selalu membantu mereka, anak yatim.
Karena sudah tidak mampu bekerja layaknya orang yang masih muda, sehari-hari beliau hanya mampu mengharap simpati dari orang-orang di pinggir jalan. Tapi jangan memandang sebelah mata. Sesuai dengan apa yang tertulis dalam box kardus usangnya "peduli anak yatim," beliau benar-benar memberikan sebagian besar hasilnya kepada anak yatim piatu. Jika kita cermati, ada tulisan yang sedikit menggelitik dalam box tersebut. Pak Ton menulis kalimat "sewu-sewu ae" yang artinya kurang lebih seperti ini, "tidak perlu banyak-banyak, seribuan saja tidak mengapa."
Setiap hari, kita bisa menemui Pak Ton di sekitar perempatan lampu merah antara jalan Pemuda, Basuki Rahmat, Teuku Umar dan Sawunggaling. Menggunakan sepeda angin, berkopiah dan selalu memasang wajah ramah. Bagi anda yang melewati, jangan lupa menyisihkan sedikit rizki. Bukan semata untuk Pak Ton, tapi untuk anak-anak yatim.
"Ora usah akeh-akeh, sewu-sewu ae."
Penulis: Yanuar Panji Abadi
Awalnya banyak orang mengira Bapak ini adalah pengemis biasa pada umumnya, yang melakukan pekerjaan tersebut hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Nama beliau Pak Ton. Usianya sudah setengah abad lebih. Dulu ketika masih bugar, Pak Ton bekerja di Puskesmas Kota Kecamatan Bojonegoro. Siap grak! Suaranya lantang ketika memimpin apel pagi. Selepas kerja, beliau masih menyempatkan diri untuk berjualan keliling. Dengan menggunakan gerobak, beliau biasa menjajakan tahu godril keliling kampung. Dulu ketika masih kecil, saya sering membeli tahu godril buatan beliau. Yah walau sudah lupa bagaimana rasanya, tapi saya tak akan pernah lupa bagaimana senyum dan keramahan beliau saat melayani konsumen, apalagi anak-anak.
Selama bekerja, Pak Ton selalu menyisihkan penghasilannya untuk anak yatim. Hingga masa tua dan sudah tidak bekerja lagi, hal itu tidak menghilangkan semangat sosialnya untuk selalu membantu mereka, anak yatim.
Karena sudah tidak mampu bekerja layaknya orang yang masih muda, sehari-hari beliau hanya mampu mengharap simpati dari orang-orang di pinggir jalan. Tapi jangan memandang sebelah mata. Sesuai dengan apa yang tertulis dalam box kardus usangnya "peduli anak yatim," beliau benar-benar memberikan sebagian besar hasilnya kepada anak yatim piatu. Jika kita cermati, ada tulisan yang sedikit menggelitik dalam box tersebut. Pak Ton menulis kalimat "sewu-sewu ae" yang artinya kurang lebih seperti ini, "tidak perlu banyak-banyak, seribuan saja tidak mengapa."
Setiap hari, kita bisa menemui Pak Ton di sekitar perempatan lampu merah antara jalan Pemuda, Basuki Rahmat, Teuku Umar dan Sawunggaling. Menggunakan sepeda angin, berkopiah dan selalu memasang wajah ramah. Bagi anda yang melewati, jangan lupa menyisihkan sedikit rizki. Bukan semata untuk Pak Ton, tapi untuk anak-anak yatim.
"Ora usah akeh-akeh, sewu-sewu ae."
Penulis: Yanuar Panji Abadi


Comments
Post a Comment