HASDUK BERPOLA, FILM DARI BOJONEOGORO
Dirilis pada tanggal 21 maret 2013, film Hasduk Berpola arahan sutradara Harris Nizam memberikan pesan moral yang sangat dalam, terutama tentang perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan, dan basib para veteran setelahnya.
Sinopsis:
Film ini menceritakan tentang Masnun, veteran pejuang kemerdekaan yang hidup terlunta-lunta di Surabaya, yang juga dikenal sebagai Kota Pahlawan. Ia bersama anaknya, Rahayu, janda beranak 2 (Budi dan Bening), akhirnya menyerah, dan pindah ke kota asalnya, Bojonegoro. Berharap kehidupannya bisa lebih baik, namun kehidupan pria renta yang terkenal sebagai pahlawan peristiwa penyobekan bendera di Surabaya ini, justru semakin terpuruk. Cerita film ini diwarnai kisah sang cucu, Budi yang berusia 12 tahun, tertantang untuk mengalahkan rivalnya, Kemal, yang aktif di kegiatan Pramuka. Maka ia juga berusaha untuk mengikuti kegiatan tersebut. Tapi karena kondisi keuangan yang tidak memungkinkan, Budi tidak bisa membeli semua perlengkapan kepramukaan. Film ini pun banyak diisi cerita bagaimana Budi berjuang memenuhi kewajibannya, hingga akhirnya membuat iba Bening adiknya yang baru berusia 10 tahun. Bening rela mengorbankan seprei kesayangannya demi dijadikan hasduk untuk kakaknya. Film sederhana penuh pesan-pesan moral dan kebangsaan ini ditutup dengan adegan yang menggetarkan sisi nasionalisme kita sebagai bangsa Indonesia yang sedikit banyak terus terkikis oleh era modernisasi dan perkembangan zaman.
Pada akhirnya film ini menyabet penghargaan dalam ajang Indonesia Movie Award untuk kategori Aktris Pendatang Baru Terfavorit.
Film ini juga sudah diputar di Pemkab Bojonegoro. Namun sayang seribu sayang, pada saat itu belum ada gedung bioskop di Bojonegoro. Film yang sebagian besar produksinya di Bojonegoro, justru tidak bisa dinikmati masyarakat Bojonegoro secara luas saat penayangan perdana.
Tapi bagi anda yang penasaran, saat ini film Hasduk Berpola sudah bisa ditonton melalui youtube.
Sumber foto: layarindo21
Sinopsis:
Film ini menceritakan tentang Masnun, veteran pejuang kemerdekaan yang hidup terlunta-lunta di Surabaya, yang juga dikenal sebagai Kota Pahlawan. Ia bersama anaknya, Rahayu, janda beranak 2 (Budi dan Bening), akhirnya menyerah, dan pindah ke kota asalnya, Bojonegoro. Berharap kehidupannya bisa lebih baik, namun kehidupan pria renta yang terkenal sebagai pahlawan peristiwa penyobekan bendera di Surabaya ini, justru semakin terpuruk. Cerita film ini diwarnai kisah sang cucu, Budi yang berusia 12 tahun, tertantang untuk mengalahkan rivalnya, Kemal, yang aktif di kegiatan Pramuka. Maka ia juga berusaha untuk mengikuti kegiatan tersebut. Tapi karena kondisi keuangan yang tidak memungkinkan, Budi tidak bisa membeli semua perlengkapan kepramukaan. Film ini pun banyak diisi cerita bagaimana Budi berjuang memenuhi kewajibannya, hingga akhirnya membuat iba Bening adiknya yang baru berusia 10 tahun. Bening rela mengorbankan seprei kesayangannya demi dijadikan hasduk untuk kakaknya. Film sederhana penuh pesan-pesan moral dan kebangsaan ini ditutup dengan adegan yang menggetarkan sisi nasionalisme kita sebagai bangsa Indonesia yang sedikit banyak terus terkikis oleh era modernisasi dan perkembangan zaman.
Pada akhirnya film ini menyabet penghargaan dalam ajang Indonesia Movie Award untuk kategori Aktris Pendatang Baru Terfavorit.
Film ini juga sudah diputar di Pemkab Bojonegoro. Namun sayang seribu sayang, pada saat itu belum ada gedung bioskop di Bojonegoro. Film yang sebagian besar produksinya di Bojonegoro, justru tidak bisa dinikmati masyarakat Bojonegoro secara luas saat penayangan perdana.
Tapi bagi anda yang penasaran, saat ini film Hasduk Berpola sudah bisa ditonton melalui youtube.

Comments
Post a Comment