JEMBATAN TRUCUK BOJONEGORO BERNAMA JEMBATAN SOSRODILOGO, KOK BISA?
Hal yang perlu diingat adalah bahwa kemerdekaan Bangsa ini tidak didapatkan begitu saja. Bukan hanya keringat dan air mata, melainkan harus ditebus dengan darah serta nyawa para Pejuang terdahulu. Tapi banyak dari kita yang tidak mengerti sejarah dari tanah kelahirannya, bahkan enggan hanya sekedar untuk mencari tahu.
Foto by. instagr4am.com
Baru-baru ini Bojonegoro memiliki icon baru, yaitu Jembatan Sosrodilogo. Jembatan ini menjadi penghubung antara Kecamatan Kota dengan Kecamatan Trucuk. Kehadirannya diharapkan bisa menunjang aktivitas masyarakat, terutama warga masyarakat Kecamatan Trucuk. Dulu masyarakat Trucuk harus berputar cukup jauh untuk mengakses jembatan terdekat. Kalau berani mengambil resiko, mereka akan naik perahu atau melalui sesek, yaitu jembatan sementara yang dibuat dari kayu.
Lalu apa, atau siapa Sosrodilogo?
Sosrodilogo adalah seorang tokoh bernama lengkap Raden Tumenggung Aria Sosrodilogo, yang tak lain merupakan Bupati Bojonegoro ke-15. Lahir di Rajekwesi, putra dari Bupati Bojonegoro ke-13 Tumenggung Purwonegoro, sekaligus ipar dari Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro.
Kepemimpinan Sosrodilogo relatif singkat antara 1827-1828, yang sebelumnya diwarnai dengan pemberontakan-pemberontakan terhadap Belanda. Karena pada saat itu, status Kabupaten Jipang (sebelum jadi Bojonegoro) di Rajekwesi merupakan jajahan Belanda setelah Inggris menyerahkannya pada tahun 1816.
Ketika Perang Diponegoro berlangsung di tahun 1825 hingga 1830, Sosrodilogo berhasil memobilisasi dan mengorganisasi diri dalam beberapa kelompok pasukan, untuk sepenuhnya mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro. Alhasil bersama para pengikutnya, Sosrodilogo mampu merebut Rajekwesi dari tangan Belanda. Keberhasilan Sosrodilogo ini juga menginspirasi daerah lain di sekitar Rajekwesi untuk meraih pencapaian yang sama. Belanda pun mengalami kekalahan.
Atas keberhasilannya itulah, oleh rakyat, Sosrodilogo kemudian diangkat menjadi Bupati Jipang di Rajekwesi.
Jatuhnya Rajekwesi membuat Belanda tak henti-henti mendatangkan bala bantuan guna merebutnya kembali. Di bawah komando Kolonel Van Griesheim, sejumlah 2000 pasukan yang terdiri dari tentara Belanda dan 'Bumiputra' berhasil merebut kembali Rajekwesi pada 2 Januari 1828. Di tengah Rajekwesi yang berantakan, Sosrodilogo tetap melanjutkan perjuangan dengan cara bergerila melalui pedesaan dan bukit-bukit.
Kondisi ini membuat Sosrodilogo terjepit, yang akhirnya menyerahkan diri ke Belanda setelah dirinya dan Raden Bagus saudaranya dijadikan sayembara, siapapun yang bisa menangkap atau membunuh mereka akan memperoleh hadiah yang menggiurkan.
Sosok Sosrodilogo benar-benar menjadi momok bagi Belanda. Kisah patriotiknya membekas di hati masyarakat Rajekwesi. Untuk menghapus memori kelam setelah kehancuran Rajekwesi, Residen Rembang Baron de Salis mengusulkan kepada Dewan Hindia Belanda untuk mengganti nama Rajekwesi. Ada dua nama yang diusulkan saat itu, yakni Bojonegoro dan Rajekwinangun. Pada 25 September 1828, nama kota Rajekwesi sah berganti menjadi Bojonegoro.

Saat Sosrodilogo berkuasa, dimana ya pusat pemerintahannya ya?
ReplyDeleteKabupaten Jipang, di Padangan.
ReplyDelete